Monday, December 13, 2010

Kumpulan Judul KTI Kebidanan dan Skripsi Keperawatan

ANDA MEMBUTUHKAN REFERENSI DALAM PEMBUATAN KARYA TULIS ILMIAH DAN SKRIPSI KHUSUSNYA BIDANG KESEHATAN ......!
Kami menyediakan beberapa judul KTI dan Skripsi yang lengkap yang dapat anda gunakan sebagai referensi dalam pembuatan KTI kebidanan ataupun Skripsi Keperawatan mulai dari awal sampai dengan lampiran sehingga dapat memudahkan anda dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah Anda. Keseluruhan Judul yang kami sediakan di bawah ini adalah KTI yang memiliki data lengkap dari KTI tersebut, jika ada yang menjual dengan judul yang sama, maka kami tidak menjamin kelengkapannya (ex: lampiran + analisa datanya + kuisioner, dll), karena data yang pernah kami sebar hanya isinya saja.....

SPESIAL PROMO : BAGI 10 ORANG PEMESAN PERTAMA UNTUK SETIAP HARINYA KAMI MEMBERIKAN BONUS (100 + ASUHAN KEBIDANAN LENGKAP) SEBAGAI BAHAN REFERENSI PENYUSUNAN ASKEB BAIK PATOLOGIS DAN FISIOLOGIS

A
  1. ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELENGKAPAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA
  2. ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI TINDAKAN IBU DALAM PENCARIAN PENGOBATAN DAN PEMULIHAN PENYAKIT PNEUMONIA PADA BALITA
  3. ANALISIS KEJADIAN CAMPAK PADA ANAK BALITA
  4. ANALISIS KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA
  5. ANALISIS PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK PADA AKSEPTOR KB
  6. ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXX
  7. ANALISIS PERBEDAAN BERAT BADAN SEBELUM DAN SESUDAH SETELAH MENGIKUTI KB SUNTIK XXX (*FILE PDF)
C
  1. CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI BPS WILAYAH KERJA XXX
E

  1. EFEKTIFITAS PIJAT PERINEUM TERHADAP RUPTUR PERINEUM *)
  2. EFEKTIVITAS METODE KANGURU MENGURANGI RASA NYERI PADA PENYUNTIKAN INTRA MUSKULER PADA BAYI BARU LAHIR DI RS*)

F
  1. FAKTOR-FAKTOR NON FISIK SULIT MAKAN PADA BALITA DI PAUD XXXXXX
  2. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  3. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI DAN PASI PADA IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  4. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR *)
  5. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENURUNAN SEKSUAL PADA IBU MENOPAUSE DI DESA XXX
  6. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN WANITA PRE MENOPAUSE DI DESA XXX
  7. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA) PADA BALITA
  8. FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI PADA ANAK BALITA
  9. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DI BPS XXX
  10. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HUBUNGAN SEKS PASCA NIFAS DI DESA XXX
  11. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MEMBERIKAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI USIA KURANG DARI ENAM BULAN
  12. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSLUSIF KEPADA BAYINYA *)
  13. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEENGANAN AKSEPTOR KB UNTUK MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS XXX
  14. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMPLIKASI PERSALINAN USIA REMAJA DI PUSKESMAS XXX
  15. FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEIKUTSERTAAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR DALAM PENGGUNAAN KB IUD
  16. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT IBU TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IMPLANT DI DESA XXX
  17. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI OLEH KADER DI POSYANDU WILAYAH PUSKESMAS XXX
  18. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA MAKAN PADA BALITA DI PEKON XXXX
  19. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN KN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  20. FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA ANEMIA PADA IBU HAMIL
G
  1. GAMBARAN AKSEPTOR KB AKDR DI KECAMATAN XXX
  2. GAMBARAN AKSEPTOR KB METODE OPERATIF PRIA (MOP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  3. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  4. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ROBEKAN PERINEUM PADA IBU BERSALIN DI BPS XXX
  5. GAMBARAN FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOBILISASI DINI PADA IBU PASCA SEKSIO SESAREA *)
  6. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR TIDAK MENGGUNAKAN KONTRASEPSI TUBEKTOMI DI KELURAHAN XXX
  7. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS GIZI PADA BALITA DI DESA XXXX
  8. GAMBARAN IBU HAMIL YANG MENGALAMI ABORTUS DI RSU XXX
  9. GAMBARAN INDIKASI PERSALINAN SEKSIO SESAREA DI RUANG BERSALIN RSU XXX
  10. GAMBARAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  11. GAMBARAN KUNJUNGAN LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  12. GAMBARAN PELAKSANAAN 5T PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  13. GAMBARAN PELAKSANAAN KEGIATAN POSYANDU DI DUSUN XXX
  14. GAMBARAN PELAKSANAAN KELAS IBU DI WILAYAH KERJA XXX
  15. GAMBARAN PELAKSANAAN PEMANTAUAN MASA NIFAS OLEH DUKUN DI DESA XXX
  16. GAMBARAN PELAKSANAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA SISWA SISWI SDN XXX
  17. GAMBARAN PEMBERIAN SALEP MATA PADA BAYI BARU LAHIR PADA BPS XXX
  18. GAMBARAN PEMROSESAN ALAT BEKAS PAKAI PADA PROSES PERSALINAN PADA BPS XXX
  19. GAMBARAN PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR NORMAL 0-6 JAM DI BPS WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  20. GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS 0-7 HARI TERHADAP IBU NIFAS DI BPS XXX
  21. GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MENYUSUI BAYI 0-6 BULAN OLEH IBU DI BPS XXX
  22. GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III DI BPS XXX
  23. GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN LAKTASI MASA NIFAS DINI OLEH PETUGAS KESEHATAN TERHADAP IBU-IBU POST PARTUM DI 3 BPS XXX
  24. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING PIL ORAL KOMBINASI (POK) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  25. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PRIA TENTANG MOP DI KELURAHAN XXX
  26. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB ALAMIAH METODE KALENDER
  27. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB XXX
  28. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI IBU HAMIL DALAM PELAKSANAAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS XXXX
  29. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PRAKTEK PIJAT BAYI 0-6 BULAN OLEH IBU DI DESA XXX
  30. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE
  31. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI SMA NEGERI XXX
  32. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA XXX
  33. GAMBARAN PENGETAHUAN DUKUN TENTANG TUGAS DUKUN DALAM PERAWATAN PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  34. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU BALITA 2-4 TAHUN TENTANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI DESA XXX
  35. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP TANDA-TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI RB. XXX
  36. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS XXX
  37. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER I TENTANG EMESIS GRAVIDARUM DI RB XXX
  38. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI BAYI 0-6 BULAN TENTANG ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  39. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT DI DESA XXX
  40. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI DESA XXX
  41. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN MENTAL MENURUT SKALA YAUMIL MIMI PADA ANAK USIA 3-4 TAHUN DI DESA XXX
  42. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN MOTORIK PADA BAYI 0-12 BULAN DI DESA XXX
  43. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG VITAMIN A DI POSYANDU XXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  44. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI BAYI 0-1 TAHUN TENTANG ISPA DI DESA XXX
  45. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 0-6 BULAN TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI
  46. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU USIA 30-60 TAHUN TENTANG PAP SMEAR XXX
  47. GAMBARAN PENGETAHUAN PRIMIPARA TERHADAP PERKEMBANGAN BAYI 0-1 TAHUN DI KELURAHAN XXX
  48. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS II TENTANG DIET SEIMBANG DI SMA NEGERI XXX
  49. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEBERSIHAN ALAT KELAMIN PADA SAAT MENSTRUASI DI DUSUN XXX
  50. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG ABORSI DI SMA XXX
  51. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA SMU XXX
  52. GAMBARAN PENGETAHUAN SISWA KELAS VI TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
  53. GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA 25-30 TAHUN TENTANG PENTINGNYA KONSUMSI KALSIUM UNTUK MENCEGAH OSTEOPOROSIS DI DESA XXX
  54. GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN EKONOMI IBU YANG MEMILIKI BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE DI PUSKESMAS XXX
  55. GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN EKONOMI IBU YANG MEMILIKI BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE DI PUSKESMAS XXX
  56. GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  57. GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI DESA XXX
  58. GAMBARAN PERSALINAN OLEH DUKUN TERLATIH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  59. GAMBARAN PERILAKU ORANGTUA TERHADAP ANAK BALITA PENDERITA GIZI BURUK
  60. GAMBARAN RENDAHNYA CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU XXX
  61. GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN DI XXX
  62. GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN, DI BPS XXX
  63. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA (1-5 TAHUN) DI POSYANDU XXX
  64. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  65. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP KEPUTIHAN DI DESA XXX
  66. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP RESIKO PERKAWINAN DINI PADA KEHAMILAN DAN PROSES PERSALINAN DI DESA XXX
H
  1. HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN XXX (*File PDF)
  2. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN XXX
  3. HUBUNGAN ANTARA PERSONAL HYGIENE DENGAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI KELAS X DAN XI DI SMA XXX
  4. HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN MENARCHE PADA SISWI XXX
  5. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS XXX
  6. HUBUNGAN LUKA JAHITAN PERINEUM TERHADAP HUBUNGAN SEKS PASCA NIFAS DI DESA XXX
  7. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN INFORMASI TENTANG METODE KONTRASEPSI MANTAP PRIA TERHADAP PERAN SERTA SUAMI DALAM GERAKAN KB DI KELURAHAN XXX.
  8. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  9. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU NIFAS DENGAN KUNJUNGAN MASA NIFAS DI PUSKESMAS XXX
  10. HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4–12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (File PDF)
  11. HUBUNGAN STRES DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI TERHADAP MAHASISWA TINGKAT I AKBID XXX
  12. HUBUNGAN TINGKAT EKONOMI DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN WAKTU MEMULAI PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DI DESA XXX
  13. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS PEMBANTU XXX
  14. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RS. XXX
K
  1. KARAKTERISITK AKSEPTOR KB POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX
  2. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  3. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI DESA XXXXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  4. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  5. KARAKTERISTIK BALITA YANG MENDERITA ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  6. KARAKTERISTIK BALITA YANG MENDERITA ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  7. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN EKSTRAKSI VAKUM DI RB XXX
  8. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KEHAMILAN LEWAT WAKTU (POSTDATE) DI PUSKESMAS XXX
  9. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN PARTUS LAMA DI RS. XXX
  10. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN RETENSIO PLASENTA DI BPS XXX
  11. KARAKTERISTIK IBU DENGAN BALITA BGM
  12. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN ANEMIA DI DESA XXX
  13. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE-EKLAMSI DI RUMAH SAKIT UMUM XXX
  14. KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MELAKSANAKAN ANTENATAL CARE DI BPS XXX
  15. KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MENGKONSUMSI TABLET FE DI KELURAHAN XXX
  16. KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  17. KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN COLOSTRUM PADA BBL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  18. KARAKTERISTIK IBU PRIMIPARA YANG MEMILIKIBAYI 0-1 TAHUN DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG RUAM POPOK DI PUSKESMAS XXX
  19. KARAKTERISTIK IBU YANG MEMERIKSAKAN PAP SMEAR DI RUMAH SAKIT XXX
  20. KARAKTERISTIK KELUARGA DENGAN BALITA BGM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  21. KARAKTERISTIK PASANGAN USIA SUBUR YANG TIDAK MENGIKUTI PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA XXX
  22. KARAKTERISTIK PELAKSANAAN SENAM LANSIA DI POSYANDU LESTARI DESA XXX
  23. KEPATUHAN IBU HAMIL DALAM MENGKONSUMSI TABLET FE DI BPS XXX
P
  1. PELAKSANAAN METODE AMENORE LAKTASI PADA IBU PASCA NIFAS
  2. PENATALAKSANAAN PENCEGAHAN INFEKSI PADA PROSES PERTOLONGAN PERSALINAN DI KLINIK XXX
  3. PENATALAKSANAAN PIJAT BAYI OLEH DUKUN PIJAT BAYI PADA BAYI USIA 1-7 BULAN DI DESA XXX
  4. PENDUGAAN HUBUNGAN ANTARA KURANG GIZI PADA BALITA DENGAN KURANG ENERGI PROTEIN RINGAN DAN SEDANG DI WILAYAH PUSKESMAS XXX (*file PDF)
  5. PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX
  6. PENGETAHUAN BENDUNGAN ASI PADA IBU POST PARTUM PRIMIPARA DI RB XXX
  7. PENGETAHUAN DAN APLIKASI MAHASISWI TINGKAT II AKBID XXX TENTANG PARTOGRAF
  8. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG PERSIAPAN PERSALINAN DI BPS XXX
  9. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA DI DESA XXX
  10. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG TEKNIK MENGEDAN YANG BENAR PADA PROSES PERSALINAN NORMAL
  11. PENGETAHUAN DAN SIKAP PASANGAN USIA SUBUR TENTANG INFERTILITAS
  12. PENGETAHUAN DAN TINDAKAN IBU DALAM PERAWATAN PERIANAL TERHADAP PENCEGAHAN RUAM POPOK PADA NEONATUS
  13. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS XXX DITINJAU DARI SEGI UMUR, PENDIDIKAN, PEKERJAAN DAN PARITAS
  14. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KONTAK PERTAMA KALI DENGAN TENAGA KESEHATAN ( K1 ) DI BPS XXX
  15. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TABLET FE DI PUSKESMAS XXX
  16. PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP DAMPAK MENGKONSUMSI KOPI BAGI KEHAMILAN DI BPS XXX
  17. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI KB SUNTIK
  18. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG CARA MENYUSUI DI DESA XXX
  19. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG DAMPAK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN
  20. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI 6 – 24 BULAN
  21. PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI BPS XXX
  22. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG KEHAMILAN DI RB XXX
  23. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TERHADAP PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA KEHAMILAN DI BPS. XXX
  24. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TENTANG TANDA-TANDA PERSALINAN DI BPS XXX
  25. PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXX
  26. PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA 3-6 HARI TENTANG BENDUNGAN ASI
  27. PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BALITA USIA 1-2 TAHUN DI DESA XXX
  28. PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI BAYI 0-6 BULAN TENTANG MANFAAT ASI EKSKLUSIF DI BPS XXX
  29. PENGETAHUAN REMAJA AWAL (11-13 TAHUN) TENTANG PENGERTIAN DAN PERUBAHAN FISIK PUBERTAS DI SMP XXX
  30. PENGETAHUAN REMAJA MENGENAI BAHAYA MEROKOK DI XXX
  31. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG SEKS SEKUNDER
  32. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG DYSMENORE DI SMP XXX
  33. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KANKER PAYUDARA DI XXX
  34. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI DI SMP XXX
  35. PENGETAHUAN SISWA-SISWI TENTANG BAHAYA NARKOBA DI SMA XXX
  36. PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA MEROKOK PADA SISWA XXX
  37. PENGETAHUAN, SIKAP DAN EKONOMI IBU YANG MEMILIKI BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE
  38. PENGETAHUAN TENTANG ISPA PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA SAKIT ISPA YANG BEROBAT KE PUSKESMAS XXX
  39. PENGETAHUAN WANITA PRA-MENOPAUSE TENTANG PERUBAHAN FISIOLOGIS MENOPAUSE DI DESA XXX
  40. PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG METODE KONTRASEPSI EFEKTIF TERPILIH DI PUSKESMAS XXX
  41. PENYEBAB STATUS GIZI KURANG PADA IBU HAMIL
  42. PERBEDAAN PREVALENSI PENYAKIT DIARE PADA BAYI DENGAN ASI EKSKLUSIF DAN TIDAK EKSKLUSIF DI PUSKESMAS XXX
S

  1. SIKAP DAN TINDAKAN BIDAN TERHADAP PENANGANAN RETENSIO PLASENTA

T
  1. TINDAKAN BIDAN DALAM PENERAPAN INISIASI MENYUSU DINI
  2. TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMK XXX
  3. TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA (6-24 BULAN) DI PUSKESMAS XXX
  4. TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PERIKSA PAYUDARA SENDIRI (SADARI) DI SMU XXX
  5. TINGKAT PENGETHUAN IBU HAMIL TENTANG KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET FE DI PUSTU XXX
  6. TINJAUAN PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN DI PUSKESMAS XXX
Sumber : Bascom World

Monday, November 29, 2010

Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh selanjutnya diolah dan dianalisa dengan teknik kuantitatif, dengan formulasi perhitungan secara statistik sebagai berikut :
1.Untuk mengukur keterampilan mengajar guru (variabel X) dan mengukur pelaksanaan program pengajaran (variabel Y) digunakan rumus rata-rata (mean) yaitu :
M =
Dimana :
M = Angka rata-rata (mean) yang dicari
X = Totak skor masing-masing item
N = Subyek/number item of cases (Anas, 1990 : 76 )
Untuk menginterprestasikan angka rata-rata (N) yang diperoleh, digunakan kriteria penilaian tersendiri dengan terlebih dahulu menentukan angka interval (i), dengan rumus sebagai berikut :

i =
Skor Tertinggi – Skor Terendah
Jarak Pengukuran
(Sutrisno Hadi, 1984 : 12)
i = Interval yang dicari
Skor tertinggi = 3 (karena item angket 3 option)
Skor terendah = 1 (skor terkecil opsi)
Skor pengukuran = 3 (jumlah opsi angket)
Dengan demikian maka jarak interval dapat ditentukan sebagai berikut :
= 0,66
Berdasarkan interval 0,66 tersebut disusun kriteria sebagai berikut :
.
Tabel 3.1
Kriteria Penilaian Skor
Interval angka mean
Kualifikasi
2,34 – 3,00
1,67 – 2,33
1,00 – 1,66
Tinggi
Sedang
Rendah
2.Untuk mengetahui hubungan variabel X dengan variabel Y digunakan rumus product moment sebagai berikut :
Keterangan :
= Indeks korelasi yang dicari
= Jumlah skor X dan skor Y
= Jumlah skor variabel X
= Jumlah skor variabel Y
= Jumlah hasil pengkuadratan skor X
= Jumlah hasil pengkuadratan skor Y ( Bambang soepono, 1997 : 51 )
Hasil yang diperoleh dari perhitungan akan dikonsultasikan dengan angka kritik (rtabel) product moment, dimana jika ternyata :
”rxy > rtabel” berarti Hipotesis kerja (Hk) diterima atau jika
”rxy <>tabel
” berarti Hipotesis nihil (Hn) diterima dan Hk ditolak.

Program Pengajaran

Mengajar sebenarnya merupakan suatu kegiatan atau proses untuk menyusun dan menguji suatu rencana atau program yang memungkinkan timbulnya perbuatan-perbuatan belajar pada diri murid-murid. Suatu kegiatan dapat dikatakan sebagai kegiatan atau tindakan mengajar jika kegiatan itu didasarkan atas suatu rencana yang matang dan teliti. Rencana program itu disusun dengan maksud untuk menimbulkan perbuatan belajar pada murid-murid. Jadi di sini berlaku suatu ketentuan bahwa jika seorang guru berdiri didepan kelas tetapi keberadaanya di depan kelas itu tidak didasarkan atas suatu rencana dan tidak dimaksudkan untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan timbulnya perbuatan-perbuatan belajar pada murid-murid, maka tidak dapatlah dikatakan bahwa guru tadi sedang mengajar.

Program belajar mengajar merupakan perencanaan yang menyeluruh dari suatu kegiatan pengajaran yang disebut dengan satuan pengajaran. Guru harus mampu merumuskan tujuan instruksional yang memenuhi persyaratan. Dan merencanakan kegiatan belajar mengajar yaitu, memilih dan mengembangkan bahan pengajaran, memilih dan mengembangkan strategi belajar mengajar, memilih dan mengembangkan media yang sesuai, memilih dan memanfaatkan sumber belajar. Dan untuk merumuskan tujuan instruksional dan merencanakan kegiatan belajar mengajar guru perlu memahami keterampilan proses dan cara belajar siswa aktif.

Dengan rencana/program yang matang, teliti dan tepat dapatlah diharapkan tercapainya tujuan pengajaran yang dikehendaki secara efektif. Bagaimanakah cara menyusun program yang efektif. Inilah salah satu peranan yang harus dimainkan atau tugas yang harus dikerjakan oleh guru-guru yang ingin berhasil baik di dalam pekerjaanya.

Kemampuan guru untuk mengembangkan sejumlah variable-variabel dan mengambil serentetan keputusan merupakan inti dari setiap program yang akan dilaksanakannya. Oleh karena itu, setiap penyusunan program pengajaran guru harus memperhatikan komponen-komponen sebagai berikut:

1). Guru harus mengetahui benar tujuan yang hendak dicapai di dalam mengajar, dan merumuskan tujuan pengajaran itu seoperasional mungkin sehingga berkaitan dengana atau berorientasi pada perubahan-perubahan tingkah laku belajar murid-murid yang diharapkan.

2). Guru harus mempersiapkan alat-alat evaluasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan yang telah dirumuskan itu biasa dicapai.

3). Guru harus menetapkan materi pelajaran yang menjadi isi program yaitu topik atau pokok-pokok bahan pelajaran yang akan disajikan.

4). Guru harus merencanakan program kegitan belajar mengajar, yaitu menetapkan strategi pelajaran dan situasi belajar murid-murid yang menyenangkan, sehingga tingkah laku belajar murid yang diharapkan itu bisa timbul. Langkah ini menyangkut pemilihan metode mengajar yang tepat dan alat-alat praga pengajaran yang memadai.

5). Guru harus bisa melaksanakan program tersebut dengan baik dan lancar dalam batas waktu jam pelajaran yang tersedia. Pelaksanaan ini umumnya berisi tahap-tahap : pendahuluan, inti pengajaran dan penutup.

Program pengajaran merupakan suatu rencana pengajaran sebagai panduan bagi guru atau pengajar dalam melaksanakan pengajaran. Agar pengajaran bisa berjalan dengan efektif dan efisien, maka perlu dibuat suatu program pengajaran. Program pengajaran yang dibuat oleh guru tidak selamanya efektif dan dapat dilaksanakan dengan baik, oleh karena itulah agar program pengajaran yang telah dibuat tidak memiliki kelemahan dan tidak terjadi lagi pada program pengajaran berikutnya, maka perlu diadakan evaluasi program pengajaran.

Menurut Arikunto (1999 : 290) “Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat keberhasilan program“. Ada beberapa pengertian tentang program itu sendiri, diantaranya program adalah rencana dan kegiatan yang direncanakan dengan seksama. Jadi dengan demikian melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan.

Yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi program adalah untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau belum. Jika sudah tercapai bagaimana kualitas pencpaian kegiatan tersebut, jika belum tercapai, dan faktor penyebab bagian rencana kegiatan yang telah dibuat tersebut yang belum tercapai, serta apa sebab bagian rencana kegiatan tersebut belum tercapai, adakah faktor lain yang mempengaruhi ketidakberhasilan program tersebut.

Sasaran evaluasi adalah untuk mengetahui keberhasilan suatu program. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ansyar (1989 : 134) bahwa “Evaluasi mempunyai satu tujuan utama yaitu umtuk mengetahui berhasil tidajnya program”. Guru adalah orang yang paling penting statusnya dalam kegiatan belajar mengajar, karena guru memegang tugas yang amat penting yaitu mengatur dan mengemudikan kegiatan kelas. Untuk membuat proses belajar mengajar lebih efektif maka tugas guru adalah menciptakan suassana kelas yang kondusif untuk pembelajaran. Untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif tersebut perlu dirancang program pengajaran. Evaluasi program perlu dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengetahui seberapa jauh program pengajaran telah berlangsung atau terlaksana.

Pengajaran dan pembelajaran adalah merupakan suatu aktivitas yang dilaksanakan oleh seorang guru agar program pengajaran yang telah dilaksanakan itu baik atau tidak, perlu dilaksanakan penilaian, yang sering dikenal dengan evaluasi program pengajaran. Evaluasi program pengajaran ini meliputi 1). Infut (Masukan), 2). Materi atau kurikulum, 3). Guru, 4). Metode atau pendekatan dalam mengajar, 5). Sarana : Alat pelajaran atau media pendidikan, 6.) Lingkungan.

Disiplin Kerja Guru

Kata disiplin berasal dari bahasa inggris “Dicipline“ yang berarti tata tertib (S. Wojowasito dan W. J. S Poerwadarminta, 1980:43), sedangkan menurut Elizabeth B. Hurlock (dalam D. Gunarsa dan Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, 1986:81) bahwa disiplin adalah proses dari latihan atau perkembangan. Sedangkan disiplin persi majalah Psikologi Populer Anda (1985:9) adalah kepatuhan atau ketaatan atas kesadaran diri yang mendalam menepati atau memperhatikan waktu, tempat dan suasana.

Dari beberapa pendapat diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa disiplin adalah kesediaan untuk melakukan kewajiban atau mentaati peraturan serta tata tertib bukan karena paksaan dari luar, tapi karena kesadaran diri yang mendalam yang didasarkan atas keyakinan dengan menepati atau meperhatikan waku, tempat dan suasana.

Disiplin kerja guru merupakan salah satu factor yang harus diperhatikan dalam proses pendidikan karena disiplin kerja guru adalah sebagai usaha mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan yang telah disetujui bersama dalam melaksanakan kegiatan, agar pemberian hukuman pada seseorang/kelompok dapat dihindari (Hadarinawawi, 1981:104). Disiplin kerja seorang guru yang mengandung pemahaman terhadap norma, nilai dan peraturan dalam melaksanakan hak dan kewajiban sebagai seorang pendidik.

Kesediaan yang tinggi pada guru sangat diharapkan oleh setiap lembaga penndidikan, karena kedisiplinan akan menimbulkan kepositifan yang banyak. Hal ini bisa dijadikan suatu landasan karena adanya kedisiplinan guru akan mengajak kepada siswa dalam penanaman proses belajar yang berhasil, selain itu juga akan dirasakan hasilnya dalam peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran.

Disiplin dalam arti ini berarti taat. Dan ketaatan adalah akar dari hubungan pengaruh guru atau kewajiban. Jadi guru yang mengalami kesulitan dalam masalah disiplin adalah guru yang kehilangan akan saling kepercayaan (Piet.A. Suhertian dan Frans Mataheru, 1981 : 306).

Kedisiplinan utama yang menjadi teladan dalam lembaga pendidikan adalah kedisiplinan kepala sekolah yang akan dijadikan contoh oleh bawahannya (guru-guru), sedang kedisiplinan guru adalah tauladan bagi siswa yang akan ditiru oleh siswa-siswanya. Dengan demikian kedisiplinan guru-guru sangat berarti terhadap peningkatan kualitas suatu sekolah.

Kedisiplinan guru adalah modal utama dalam mencapai keberhasilan mempengaruhi terhadap kedisiplinan siswa. Adapun ciri-ciri mengenai guru yang kurang baik dikemukakan oleh Wasty Soemanto (1980 : 220), yaitu : kurang memiliki rasa humor, mudah menjadi tidak sadar, menggunakan komentar-komentar yang melukai dan mengurangi rasa ego, kurang terintegrasi, cenderung bertindak otoriter dan biasanya kurang peka terhadap kebutuhan siswa-siswa mereka.

Monday, November 22, 2010

Pengaruh Tingkat Ekonomi Keluarga terhadap Pola Pikir


Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa ekonomi keluarga adalah segala sesuatu yang dilakukan manusia tidak ada batasnya guna mencapai kemakmuran dalam suatu keluarga dan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga dalam pendidikan anak. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak maka orang tua harus mempunyai pekerjaan dan penghasilan.
Kondisi sosial ekonomi keluarga memang peranan penting untuk menentukan pekembangan kehidupan pendidikan anak. Kondisi sosial yang menggambarkan status orang tua merupakan faktor yang dilihat oleh anak untuk melangsungkan pendidikannya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan H. Abu Ahmad (1982:46), yang mengatakan bahwa “Kondidi sosial seseorang ditentukan oleh keadaan yang ada di dalam keluarganya dan intraksi antara individu tersebut dengan kebudayaan dengan lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian, kondisi sosial setiap keluarga berbeda antara satu sama lain. Hal ini ditentukan olah keadaan di dalam keluarga tersebut, misalnya jumlah anggota kelurga, komunikasi yang terjalin di dalam keluarga, perhatian orang tua terhadap anak dan hubungan keluarga anak dengan masyarakat sekitar.
Faktor ekonomi mencakup kemampuan ekonomi orang tua dan kondisi ekonomi keluarga (masyarakat), yang pertama merupakan kondisi utama, karena menyangkut kemampuan orang tua dalam membiayai pendidikan anaknya. Banyak anak berkemaqmpuan intlektual tinggi tidak dapat menikmati pendidikan yang baik, disebapkan oleh keterbatasan kemampuan ekonomi orang tuanya. Dengan demikian, secara tidak langsung anak akan berpikir dengan ekonomi kelurganya mampu atau tinggi untuk melangsungkan pendidikan dibangku sekolahnya tidak ada hambatan masalah biaya dan anak akan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan masalah pola pikir anak akan lebih baik. Sedangkan kondisi ekonomi keluarganya yang kurang mampu atau rendah untuk melangsungkan pendidikan sekolahnya akan terhambat karena masalah biaya yang kurang mendukung sehingga anak putus sekolah dan pola pikir anak tersebut kurang baik atau rendah.
Sebagaimana telah diketahui bahwa tanggung jawab keluarga atau orang tua terhadap pendidikan anak serta tujuan dan isi pendidikan yang diberikan kepada anak. Mendidik anak yang di luar pendidikan keluarga yaitu pendidikan sekolah yang tidak lepas dari tanggung jawab atau kewajiban orang tua untuk mengeluarkan biaya untuk pendidikan anak.
Dalam mendidik anak di lingkungan sekolah, sekolah hanya memberikan pendidikan kepada siswa apabila orang tuanya bisa membiayai kebutuhan sekolah misalnya membayar SPP, membeli buku yang diperlukan, dan pakaian seragam yang dibutuhkan sekolah. Apabila anak terus mendapatkan pendidikan di bangku sekolah maka pola pikir anak tersebut akan lebih baik untuk ke depan.
Tingkat ekonomi keluarga sangat berpengaruh untuk menentukan perkembangan anak. Kehidupan anak dalam melangsungkan pendidikan supaya pola pikir anak akan baik dalam suatu penyelesaian masalah yang dialaminya dan akan menjadi anusia yang berguna bagi keluarga bagi masyarakat dan nergara.
by : Yeyen

Pola Pikir

Menurut Williams (2004:3), pola pikir mempunyai pengertian “Kecendrungan manusiawi yang dinamis, sehingga dapat berpengaruh terhadap kehidupan”. Pola pikir seseorang dapat membantu dalam menyelesaikan masalahnya, dapat pula merugikannya. Pola pikir yang dimaksud terbagi menjadi dua macam, yaitu pola pikir positif dan pola pikir negatif.

Menurut Williams (2004:3), “Pola pikir positif yaitu kecenderungan individu untuk memandang segala sesuatu dari segi positifnya dan selalu berpikir optimis terhadap lingkungan serta dirinya sendiri”. Pola pikir inilah yang dapat membantu individu mengatasi masalahnya. Sedangkan pola pikir negatif menurut Williams (2004:3), yaitu “Kecenderungan individu untuk memandang segala sesuatu dari segi negatif”. Individu dengan pola pikir negatif selalu menilai bahwa dirinya tidak mampu, terus-menerus mengingat hal-hal yang menakutkan. Pola pikir negatif lebih memberikan dampak yang merugikan bagi kehidupan individu.

Menurut Rini (2002:5) meyebutkan “Pola pikir sangat berhubungan erat dengan kepercayaan diri”. Individu dengan rasa percaya diri yang lemah, cenderung mempersepsi segala sesuatu dari sesi negatif. Individu tersebut tidak menyadari bahwa dalam dirinya semua negativisme itu berasal. Sedangkan individu dengan kepercayaan diri yang tinggi cenderung mempersepsi segala sesuatu dari sesi positifnya. Sikap positif individu yang membuat dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya.

Albrecht (dalam Rahayu dkk, 2004) memandang individu yang berpikir positif akan mengarahkan pikiran-pikirannya pada hal-hal yang positif, individu tersebut akan bersikap positif dalam menghadapi permasalahan lebih berbicara tentang kesuksessan dari pada kegagalan, cinta kasih dari pada ketakutan, kepuasan dari pada kekecewaan.

“Pola pikir negatif sama dengan berpikir negatif (Nagative Thinking)”. Negative Thingking merupakan manifestasi dari perasaan takut pada massa yang akan datang karena individu tersebut merasa tidak mempunyai teknik problem solving yang tepat dalam menyelesaikan permasalahannya (Norem, 2002). Hal ini individu dengan pola pikir tertentu bukan karena menginginkan sesuatu tapi lebih dikarenakan pengaruh keyakinan dirinya yang berhubungan dengan pengalaman sebelumnya. Misalnya, individu yang memakai pola pikir negatif dengan perasaan pesimisnya akan terus menerus mengingat sesuatu yang menakutkan berhubungan dengan pengalamannya maupun pengalaman orang lain.

Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud pola pikir adalah kecenderungan individu yang dipengaruhi oleh keyakinan diri dalam memandang segala sesuatu, kemudian pola pikir ini akan berpengaruh terhadap kehidupannya.

By : Yeyen